Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

AQIDAH

Bagaimana Kita Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk

Dalam beberapa baris kalimat ini, kita berjumpa lagi dalam pembahasan dasar-dasar iman dan tauhid. Di dalamnya kita akan mempelajari dua dasar agung dari dasar-dasar iman—yang ibadah apa pun tidak akan diterima kecuali dari orang yang memiliki dua dasar tersebut—yaitu iman kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari kiamat.

Pertanyaan pertama:

Bagaimana kita beriman kepada takdir?

Jawaban:

Yaitu dengan mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu  dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, meyakini bahwa seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mendatangkan manfaat bagimu, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan manfaat apa pun bagimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagimu.

Dan seandainya seluruh makhluk bersatu untuk mendatangkan mudarat bagimu, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan mudarat apa pun bagimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

Juga beriman bahwa apa yang Allah kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, 

serta segala yang ada di alam semesta berupa gerak-gerik, kehidupan, kematian, kebaikan, keburukan, ketaatan, dan kemaksiatan adalah dengan takdir, kehendak, ilmu, dan hikmah dari Allah. Tidaklah semua itu terjadi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dipaksa melakukan itu, bukan pula suatu hal yang sia-sia dari-Nya.

Pertanyaan kedua:

Apa maksud dari firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar…” (QS. Muhammad: 31)

Bukankah Allah telah mengetahui itu semua sebelum itu terjadi?

Jawaban: Tentu, Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala hal. Dia mengetahui apa yang akan dikerjakan para makhluk sebelum Dia menciptakan mereka, dan menulisnya di Lauhul Mahfuzh, sebagaimana yang Dia firmankan,

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Dan sungguh, Allah telah meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.” (QS. At-Talaq: 12)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata.” (QS. Al-An’am: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ: اكْتُبْ. فَقَالَ: مَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah pena. Lalu Dia berfirman, ‘Tulislah.’ Pena bertanya, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Dia berfirman, ‘Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat.’” (HR. Al-Bukhari)

Namun, termasuk dari keadilan dan hikmah Allah Ta’ala, Dia tidak menzalimi para hamba-Nya, sehingga Dia tidak menghisab mereka kecuali atas amalan yang mereka lakukan berdasarkan kehendak mereka yang telah Allah ciptakan bagi mereka. Dia tidak menghisab mereka kecuali dengan ilmu-Nya tentang apa yang telah mereka kerjakan, bukan sekedar berdasarkan ilmu-Nya yang telah ada dan penulisan takdir dalam Lauhul Mahfuzh.

Jadi, makna ayat bahwa Allah akan menguji para hamba-Nya—yakni menguji mereka untuk mengetahui mana orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar, dan mana orang-orang munafik—sebagai dasar untuk menghisab mereka, meskipun sebelumnya Dia telah mengetahui itu sebelumnya.

Pertanyaan ketiga:

Apakah manusia dikendalikan oleh takdir atau memiliki pilihan dan kehendak?

Jawaban:

Ini adalah pertanyaan yang keliru sejak awal karena manusia itu dalam perbuatan-perbuatannya yang bersifat pilihan—seperti ketaatan dan kebaikan, atau kemaksiatan dan keburukan—manusia memiliki kemampuan dan pilihan untuk melakukannya. Hal ini tidak diingkari kecuali orang yang keras kepala karena setiap manusia dapat merasakan kehendak itu dalam dirinya. Dan Allah juga telah menjelaskan hal itu dalam al-Qur’an,

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Maka barang siapa menghendaki, hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki, hendaklah dia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Hanya saja kehendak itu bukanlah kehendak mutlak tanpa batas, tapi terikat oleh kehendak Allah, karena Allah-lah yang menciptakan manusia dan menciptakan baginya kemampuan dan kehendak, sebagaimana yang Allah firmankan,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah menghendaki.” (QS. Al-Insan: 30)

Keterikatan ini bukan berarti menggugurkan kehendak manusia dan menjadikannya dikendalikan atau terpaksa tanpa memiliki pilihan. Allah tidak akan menghisab orang yang tidak memiliki kehendak, seperti orang yang dipaksa, kehilangan akal, atau orang yang tidur.

Namun, kehendak Allah berlaku pada hamba-Nya melalui apa yang mereka kerjakan sendiri dan dalam kuasa mereka. Dan Allah-lah yang menciptakan mereka, serta menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan mereka. Sedangkan perbuatan yang berada di luar kehendak, seperti detak jantung dan tertarik oleh gaya gravitasi, maka tidak diperselisihkan lagi bahwa seorang hamba tidak punya kuasa dan pilihan dalam hal itu.

Pertanyaan keempat:

Apabila Allah yang menghendaki adanya kebaikan dan keburukan, dan Dia yang menciptakan keduanya, apakah Dia meridai keburukan dan suka dimaksiati?

Jawaban:

Allah tidak menyukai kerusakan dan tidak rida dengan kekufuran bagi hamba-Nya. Namun, Dia meridai Islam sebagai agamanya, mencintai orang-orang yang beriman, bertakwa, dan berbuat baik, dan Dia tidak meridai orang-orang fasik.

Kecintaan dan keridaan-Nya mengikuti perintah syariat-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya—bukan hanya berdasarkan kehendak-Nya mengadakan sesuatu—Allah menciptakan Iblis, tapi Dia tidak menyukainya. Demikian juga Dia yang menciptakan keburukan, tapi Dia tidak meridainya dan tidak memerintahkan para hamba-Nya untuk melakukannya. Namun, Dia menciptakannya dengan hikmah-hikmah yang Dia ketahui, karena Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya: 23)

Selain itu, hamba-hamba-Nya tidak mampu untuk mengetahui segala ilmu dan hikmah Allah Ta’ala.

Pertanyaan kelima: 

Apabila semuanya telah ditakdirkan dan tertulis, lalu apa gunanya beramal? Lalu mengapa Allah mengazab para pelaku maksiat atas sesuatu yang Dia tetapkan dan ciptakan?

Jawaban:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan untuknya.”

Kesengsaraan dan kebahagiaan diciptakan Allah dengan mengaitkannya dengan sebab kemaksiatan atau ketaatan, bukan menciptakannya tanpa sebab. Sehingga tidak ada seorang pun yang masuk neraka kecuali karena amalan penghuni neraka dan orang-orang beriman juga masuk surga sebagai balasan atas amal mereka. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, amalan itu meskipun dengan kehendak dan kuasa Allah, tapi juga dengan kuasa manusia, dan amalan itu menjadi sebab kebahagiaan atau kesengsaraannya, dan itu dengan kehendak hamba tersebut.

اِعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Berbuatlah sesuka kalian. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Fussilat: 40)

Allah hanya mengazab para hamba-Nya yang layak diazab atas amalan mereka. Meskipun Allah yang menuliskannya, tapi Dia tidak memerintahkan mereka melakukan amalan itu.

قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh berbuat keji…’” (QS. Al-A‘raf: 28)

Selain itu, apa yang Allah tulis dalam Lauhul Mahfuzh juga tidak diketahui oleh para makhluk-Nya, tapi yang mereka ketahui adalah syariat Allah berupa perintah, larangan, halal, dan haram. Mereka juga memiliki akal dan kehendak memilih. Oleh sebab itu, Allah membantah orang-orang musyrik yang berkata,

لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-An‘am: 148)

Allah membantahnya dengan firman-Nya, 

قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

“Katakanlah, ‘Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Kamu hanya mengikuti dugaan, dan kamu hanya mengada-adakan kebohongan.’” (QS. Al-An‘am: 148)

Lalu, pertanyaan pada hari kiamat akan diajukan berkaitan dengan jawaban apa yang kalian berikan kepada para rasul dan apa yang telah kalian kerjakan, bukan tentang apa yang telah Allah tulis bagi kalian di Lauhul Mahfuzh.

Pertanyaan keenam:

Apa hukum orang yang melakukan perbuatan-perbuatan haram dan meninggalkan amalan-amalan wajib, lalu ia beralasan, “Andai Allah menghendakiku mendapat hidayah, pasti aku mendapat hidayah!”

Jawaban:

Orang ini termasuk pengikut Iblis yang berkata kepada Tuhannya, 

رَبِّ بِمَاۤ اَغۡوَيۡتَنِىۡ

“Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menyesatkanku!” (QS. Al-Hijr: 39)

Makhluk pertama yang beralasan dengan takdir adalah Iblis, tapi alasan ini sama sekali tidak bermanfaat baginya. Sedangkan Adam dan Hawa mengakui kesalahannya dengan berkata,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Oleh sebab itu, pilihlah untuk dirimu, engkau ingin bersama siapa? Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri.

Pertanyaan ketujuh:

Apa hukum orang yang tidak beriman dengan takdir?

Jawaban:

Seandainya dia menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, amalannya itu tetap tidak akan diterima darinya, hingga ia beriman kepada takdir. Seandainya ia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, niscaya ia termasuk penghuni neraka. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ubay, Hudzaifah, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“(Ingatlah) pada hari ketika mereka diseret ke dalam neraka dengan wajah mereka. (Dikatakan kepada mereka), ‘Rasakanlah sentuhan api Saqar.’ Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran dan ketentuan.” (QS. Al-Qamar: 48-49)

Pertanyaan kedelapan:

Di mana kita bisa membaca lebih lanjut tema ini?

Jawaban:

Dalam buku al-Qadha wa al-Qadar karya Abu Bakar al-Jaza’iri, buku Ma’arij al-Qabul karya Ahmad al-Hakami, buku Syifa al-Alil karya Ibnu al-Qayyim, buku al-Aqidah al-Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah, dan buku Arkan al-Islam wa al-Iman karya kami sendiri.

***

Syekh Muhammad Jamil Zainu

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/1001/163484/كيف-نؤمن-بالقدر-خيره-وشره/

PDF Sumber Artikel

🔍 Ayat Tentang Penciptaan Alam Semesta, Surat Yusuf Dan Mariam, Doa Iftitah Dibaca Pada Rakaat Berapa, Keluar Dari Islam, Keluar Cairan Bening Saat Hamil 7 Bulan

Visited 6 times, 6 visit(s) today

QRIS donasi Yufid