Segala puji bagi Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang dan padanya Dia menjadikan pelita serta bulan yang menerangi. Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.
Selawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, yang diutus oleh Tuhannya sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi, amma ba’du.
Kita dapat merangkum cara-cara yang dapat membantu seorang muslim untuk bersikap rendah hati dalam hal-hal berikut.
- Merenungi asal penciptaan manusia
Perenungan seorang insan tentang asal-usul penciptaannya dapat membantunya untuk menjadi golongan orang-orang yang rendah hati. Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam Kitab-Nya yang mulia tentang asal penciptaan manusia dan fase-fase pembentukannya dalam rahim ibunya. Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا
“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan)…” (QS. Fatir: 11)
Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah menciptakan bapak kalian, Adam dari tanah, kemudian Dia menjadikan penciptaan bapak mereka itu dari tanah sebagai penciptaan mereka juga. Kemudian Allah menciptakan kalian dari air mani laki-laki dan perempuan. Kemudian memasangkan perempuan dengan laki-laki.” (Tafsir ath-Thabari, jilid 19 hlm. 341)
Allah Ta’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ
“Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu.
Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (seiring berjalannya waktu) kamu sampai kepada kedewasaan…” (QS. Al-Hajj: 5)
Makna firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah” yakni bapak kalian, Adam yang merupakan sumber keturunan.
Dan firman-Nya, “air mani” yakni keturunannya. Nutfah artinya air mani, dan makna asalnya adalah air yang sedikit.
Firman-Nya, “segumpal darah” yakni darah yang kental. Disebut dengan alaqah karena ia menggantung di dinding rahim.
Firman-Nya, “segumpal daging” yakni sepotong daging kecil seukuran daging yang dikunyah.
Firman-Nya, “yang sempurna kejadiannya” yakni sudah sempurna penciptaannya, tidak memiliki cacat dan kekurangan.
Firman-Nya, “yang tidak sempurna” yakni tidak sempurna atau cacat penciptaannya. (Tafsir al-Baghawi, jilid 5 hlm. 366)
- Merenungi tempat kembali manusia setelah kematiannya
Allah Ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan secara sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka…” (QS. Ali Imran: 185)
Allah Ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57)
Abu al-Ahwash rahimahullah berkata, “Kaum Quraisy pernah menyombongkan diri di hadapan Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, lalu beliau menanggapi, ‘Namun aku diciptakan dari air mani yang menjijikkan, lalu kembali menjadi bangkai yang bau. Kemudian timbangan amal dihadirkan. Apabila timbangan amalku berat, maka aku adalah orang yang mulia, tapi jika timbangan amalku ringan, maka aku orang yang hina.’” (An-Nihayah Fi al-Fitan Wa al-Malahim, karya Ibnu Katsir, jilid 2 hlm. 32)
- Mengetahui kemampuan hakiki manusia
Dengan seseorang mengetahui kadar keagungan Tuhannya dan mengerti kadar dirinya yang lemah dan fana, dan setiap sifat yang membuatnya sombong di dunia ini sama sekali tidak kekal dan justru hanya sifat-sifat sementara, serta mengetahui bahwa Tuhannya adalah Maha Pencipta, Maha Agung, satu-satunya yang punya kekekalan dan kebesaran, maka orang tersebut tidak akan membangkang terhadap Tuhannya dengan perbuatan dosa.
Ketika itu, ia akan memperlakukan orang lain dengan baik, lembut, penuh kasih sayang, dan belas kasih, tidak sombong terhadap siapa pun, tidak mempedulikan penampilan besar yang menipu, tidak angkuh terhadap majelis orang-orang fakir, tidak enggan berjalan dengan orang-orang lemah, memenuhi undangan mereka, berbicara dengan mereka dengan lembut, tidak angkuh dalam mendengar nasihat dari orang yang lebih rendah darinya. (Mawarid azh-Zham’an, karya Abdul Aziz as-Salman, jilid 4 hlm. 150)
Allah Ta’ala berfirman,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)
Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman bahwa setiap yang ada di muka bumi, baik itu jin dan manusia, pasti akan binasa. Dan yang tersisa hanya Wajah Tuhanmu, Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Muhammad.” (Tafsir ath-Thabari, jilid 22 hlm. 211)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)
Firman Allah, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong” yakni jangan berjalan di bumi dengan angkuh, sombong, dan tinggi hati.
Dan firman-Nya, “karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi” yakni kamu tidak akan dapat memotong dan menembus bumi dengan kesombonganmu sampai ke sisi lainnya.
Dan firman-Nya, “dan tidak akan mampu mencapai setinggi gunung” yakni kamu tidak akan mampu mencapai dan menyamai ketinggian gunung dengan kesombonganmu itu. (Tafsir al-Baghawi, jilid 5 hlm. 93)
- Mengetahui pahala rendah hati
Mengetahui pahala yang telah Allah Ta’ala siapkan bagi orang-orang yang rendah hati dan ikhlas merupakan salah satu cara yang dapat membantu seorang muslim bersikap rendah hati. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan hati karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim no. 69)
- Berdoa
Seorang muslim wajib kembali kepada Allah dengan doa agar dikaruniai sikap rendah hati dalam perkara agama dan interaksinya dengan manusia. Ia juga harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan doanya. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ ۖ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Allah Ta’ala juga berfirman,
أَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۚ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ
“Bukankah Dia (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, membuang kesusahan, dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sedikit sekali kamu yang mengambil pelajaran.” (QS. An-Naml: 62)
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
“Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghafir: 60)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah bentuk karunia dan kemurahan Allah Ta’ala yang mendorong para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, dan Dia menjamin akan mengabulkan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 7 hlm. 153)
Abu Dawud meriwayatkan dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya Rabb kalian Maha Berkah lagi Maha Tinggi, Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu kepada hamba-Nya apabila hamba tersebut mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud. Disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1323)
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi lengah.” (HR. at-Tirmidzi. Disahihkan al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi no. 2766)
Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang terbaik dan sifat-sifat-Nya yang tertinggi agar menjadikan amalan ini ikhlas karena mengharap wajah-Nya yang mulia, menjadikannya simpanan bagiku di sisi-Nya pada hari kiamat,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Saya juga memohon kepada Allah agar menjadikannya bermanfaat bagi para penuntut ilmu. Dan akhir seruan kami, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga selawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut mereka hingga hari kiamat.
***
Syekh Shalah Najib ad-Daqq
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/11874/132785/وسائل-التواضع/
🔍 Suami Istri Tidur Terpisah, Hewan Qurban Sebagai Kendaraan Di Akhirat, Doa Minta Jodoh Yang Baik Dalam Islam, Apa Yang Dimaksud Air Mani, Foto Istri Menyusui Suaminya Sendiri
